Categories
Bisnis Online

Digital Marketing Life Hacks: Omzet Makin Ting Dengan Digital Marketing

Digital Marketing Life Hacks, Sudah pernah mendengar istilah Digital marketing? jika belum, Digital Marketing secara harfiah diterjemahkan sebagai kegiatan-kegiatan marketing yang dilakukan melalui media digital. 

Percaya tidak percaya, kegiatan ini benar-benar terbukti mampu meningkatkan omzet usaha kita secara gila-gilaan dari pada marketing non digital, apalagi diera yang saat ini apa-apa serba online, sehingga kemampuan menjangkaunya tidak hanya se-Indonesia tapi juga seluruh dunia.

Kisah Betapa Gilanya Digital Marketing Untuk Menjual Barang

Saking gilanya barang yang terlihat tidak bakalan lakupun ternyata mampu terjual, bahkan bisa mencapai omzet puluhan jutaan rupiah dengan digital marketing.  

Salah satu contohnya adalah Laksita yang sukses menjual kaos kaki melalui sosial media instagram, ini saya ambil dari smartbisnis.co.id, Laksita Pradnya Paramita atau biasa dipanggil Mita ini mampu meraih omzet produksi hingga 200juta hanya dalam 16 bulan, dengan menjual kaos kaki sisa import yang dia peroleh dari sebuah pasar, kaos kaki yang semula seharga 10 ribu, kemudian Dia jual lagi dengan harga 15 ribu per pasang melalui akun instagram khusus untuk menjual kaos kaki.

Begitu juga dengan Budi Nurhadi, seorang guru swasta di Kuningan, Jawa Barat ini mampu meraup omzet 30 juta per bulan hanya dengan menjual bawang goreng. Bahkan menurut berita dari detik.com, bawang goreng yang Budi Nurhadi jual ini hampir menjangkau seluruh wilayah di indonesia, dan beberapa negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Dan lagi dia menggunakan Digital Marketing, Budi menggunakan beberapa media sosial, marketplace untuk meraih omzet sebesar itu.

Gilakan? Pernah kebayang dapat omzet segitu?

Apa Perbedaan Digital Marketing dan Jualan Online?

Mungkin setelah membaca dua contoh kisah sukses di atas, kalian akan mulai berfikir “oh jualan lewat IG ya”, “Pake marketplace ya”, “oh online ya pantes” dan lain-lain. Jika kalian berfikir seperti itu maka kalian perlu hati-hati, karena yang kalian pikirkan itu bukanlah Digital Marketing, tapi jualan online.

Lho digital marketing bukannya jualan juga?

Ya dengan berat hati saya bilang Digital Marketing tidak hanya menjual barang seperti penjual online.

Mungkin beberapa kalian yang aktif di media sosial sering menemui akun yang tiap hari posting produk di berada, feed atau di story bahkan sampe-sampe semua postingan akunya isinya cuma jualan.

Beda dengan digital marketer, jika seorang digital marketer punya akun media sosial, 1 dari 10 postingnnya belum tentu jualan.

Lalu perbedaan Digital Marketing dan Jualan Online itu apa?

Perbedaan yang paling keliatan itu ada pada mindset atau cara berfikirnya. Seorang penjual online hanya memikirkan jualan-jualan, posting-posting berharap pagi ini posting, siang atau sore atau malem closing. Bahkan yang gila lagi ada penjual online yang sampe melakukan tindakan spamming, mereka share jualannya ke berbagai forum dan group hanya untuk mendapatkan pembeli.

Sedangkan seorang digital marketer tidak langsung menjual seperti penjual online, hal pertama yang mereka lakukan adalah dengan mengumpulkan data, setelah data terkumpul mereka akan memikirkan cara menjual yang tepat dan menjualnya.

Data apa yang dikumpulkan? Macam-macam, mulai nomor telpon, email, hobi, minat, forum atau group yang sering dikunjungi, sosial media yang sering diakses dan sebagainya yang kemudian diolah.

Seperti Laksita yang menjual kaos kaki lakukan, awalnya dia melihat kaos kaki yang menurut dia lucu, unik di sebuah pasar yang dijual cuma 10 ribu dan angka penjualnya sangat kecil, sehingga Laksita mencoba untuk menjualnya melalui media sosial, karena Laksita sadar ketika kaos kaki dijual dipasar yang dilihat adalah fungsinya. Sedangkan ketika dia menjualnya di sosial media yang dijual bukan lagi nilai guna, tapi emosi.

Ya tau sendiri jika tergetnya adalah wanita, saya rasa kalian pasti paham terhadap emosi wanita, terutama kaum pria yang sudah memiliki pasangan, pasti akan sangat paham sekali betapa ngeri-ngeri sedap emosi wanita itu apalagi liat barang diskon dan lucu.

Curhat dikit aja, ini saya alami sendiri, baru kemarin istri beli sendal karena diskon, eh hari ini udah beli lagi sendal yang warna sama, motif mirip-mirip dari yang dia beli kemarin, dan kali ini alasan dia beli adalah karena lucu, ada bulu-bulu halusnya. Itu baru sendal, belum tas. Ndak tau udah berapa tas yang dia koleksi.

Dengan emosi semacam itu, kaos kaki yang dilabel dengan kata unik dan lucu oleh Laksita mendapat respon positif bahkan dengan harga lebih mahal.

Sampai disini Laksita sudah memikirkan banyak hal seperti apa yang dijual, dimana tempat menjualnya, bagaimana cara menjualnya dan berapa harga yang pantas. Bahkan saya yakin Laksita bakal memberikan variasi-variasi untuk meningkatkan penjualan bahkan meningkatkan profitnya.

Penjual atau Pedagang tidak melakukan itu, umumnya mereka akan kulakan barang kemudian jual lagi tanpa ada proses kreatif, karena fokus utamanya meraka adalah barang terjual dan kita dapat untung.

Jadi perbedaan paling keliatan dari pedagang dan digital marketer adalah mindset. Dimana yang digital marketer fokur pada database, dan pedagang atau penjual pada barang omzet. Karena digital marketer berkeyakinan dengan memilik database dia bisa menjual barang yang sama dengan banyak cara dan dengan harga yang berbeda-beda.

Hal semacam itu juga pernah terjadi pada Mukena, ketika pedagang menjualnya sebagai alat beribadah harganya kisaran 100-300 ribu, tapi ketika kita jual sebagai mahar pernikahan harganya bisa 1-3 juta. Hal semacam ini tidak terjadi serta merta, tapi dengan proses yang panjang. Bahkan tidak jarang para digital marketer rela menghabiskan banyak uang hanya untuk mendapatkan database.

Apakah Digital Marketing Itu Harus Selalu Online?

Nah dari tadi kita tu membahas barang yang dijual melalui internet, kaos kaki dijual lewat IG butuh internet, Bawang Goreng yang dijual lewat Marketplece dan Sosial Media, yang online juga. Nah sekarang pertanyaan apakah digital marketing itu harus online?

Jawabnya adalah tidak. Karena digital marketing itu marketing yang dilakukan di media Digital, seperti TV, Radio, Videotron dan Seluruh media yang ada di internet seperti teks, gambar, audio hingga video.

Kalo khusus di internet itu sebutannya Online Marketing, dan online marketing berada di dalam digital marketing, sehingga dalam digital marketing kita juga akan membahas tentang website, email, FBads, IGAds, ataupun Google Ads.

Jika dibaratkan sebagai manusia, Digital Marketing itu adalah Kepala atau Otaknya, yang berfokus pada strategi-strategi dan pengembangan bisnis seperti:

  • Memikirkan bagaimana mendapatkan database, mengolah dan menciptakan cara jualanya yang langsung closing.
  • Memikirkan bagaimana cara mendapat omzet sekian juta dalam sebulan.
  • Bagaimana mengurangi budget iklan kalo pakai iklan tapi omzet pejualan sama,
  • Bagaimana menjual stok-stok sisa yang tidak sempat terjual dan sebagainya,

yang kesemuanya bertujuan untuk membesarkan bisnisnya, lalu strategi-strategi itu disampaikan pada anggota badan seperti online marketing bahkan pada penjual online untuk dieksekusi agar apa yang direncanakan bisa tercapai.

Meningkatkan Omzet Dengan Digital Marketing

Dari penjabaran di atas kita udah bisa memahami bahwa digital marketing itu konsentrasi pada membangun usaha dan pengembangannya.

Di sini saya akan coba share beberapa trik yang mungkin bisa kalian tiru agar omzetnya bisa menggila. Tentu ini sudah terbukti berhasil.

1. Pahami Trafik dan Kumpulkan Database.

Langkah pertama adalah kalian harus memahami trafik dan mengumpulkan database mereka, trafik disini adalah calon pembeli yang akan membeli produk kita.

Dalam teori-teori marketing trafik ini dibagi menjadi tiga bagian:

  • Cold/Dingin: Calon pembeli yang tidak kenal/tidak tau kita.
  • Warm/Hangat: Calon pembeli yang sudah tau kalau kita menjual suatu produk, biasanya mereka hanya bertanya-tanya dan pergi tanpa membeli.
  • Hot/Panas: Trafik hot bisa kita kategori kan sebagai orang yang sudah membeli produk kita dan berkemungkinan membeli lagi.

Nah dari itu kita harus mengelompokan calon-calon pembeli kita sesuai dengan ciri-cirinya. Lalu kita kumpulkan data-data mereka seperti nomor WhatsApp, Nomor Telpon atau Alamat Email yang kemudian akan kita jadikan database.

Data-data kontak WA tersebut kedepan akan sangat bermanfaat untuk memberitahu informasi produk baru atau ketika kita ada promo-promo spesial atau sekedar menggali informasi apa keinginan mereka yang nantinya bisa kita olah menjadi produk baru.

2. Pahami Bagaimana Trafik itu Datang

Tak kenal maka tak beli, sebagai seorang digital marketer kita harus paham bagaimana caranya kita mendatangkan trafik dan membuat mereka dari tidak tau siapa kita hingga mereka mau membeli dikita, tidak hanya sekali tapi berkali-kali.

Untuk trafik Warm dan Hot kita bisa mendatangkan mereka dengan cara broadcast message melalui WhatsApp karena kita sudah mendapatkan Kontak WA mereka diawal. Lalu bagaimana cold?

Cold bisa kita hadirkan dengan beberapa cara, jika secara online kita bisa share media sosial, atau mengiklan melalui FBAds, IGAds dan Google Ads. Jika Offline kita bisa pakai sales lapangan dan sebar-sebar brosur.

Setelah mereka datang, langsung minta kontak WA atau nomor telpon atau apa saja yang bisa kita jadikan database.

3. Olah database dan Lakukan Tes Pasar

Setelah database terkumpul, langkah selanjutnya adalah mengolah datanya, kita bisa kelompokkan datanya berdasarkan usia, pekerjaan, tempat tinggal, tau usaha kita darimana, online atau offline, kalau online dari FB, IG, Website, Google maps, Jika Offline dari sales, brosur atau rekomendasi teman.

Ketika data-data sudah terkelompokan, cari kelompok terbanyak. Misalkan calon pelanggan yang paling datang usianya 25-35 tahun, mereka tau kita dari Facebook, Mereka berasal dari Jakarta.

Dari data itu kita bisa memikirkan strategi iklan, pengemasan produk, promo apa yang cocok dan tindakanlainnya.

Kemudian lakukan tes pasar berdasarkan data yang sudah diolah, Misal kita sudah tau kebanyakan trafik datang dari Facebook maka iklan Facebook kita maksimalkan, kita tambahkan promo-promo atau adakan sebuah game seperti tag teman, komentar terbaik, share terbanyak dan lain-lain untuk meningkatkan peluang beli sekaligus menjangkau trafik cold dan mengubahnya mengubahnya menjadi warm trafik.

Bagaimana jika belum sesuai?

Ya diolah lagi sampai berhasil.

Nah itu yang pernah saya lakukan dan terbukti berhasil, Oh iya saya belum cerita tentang saya ini siapa, saya saat ini adalah seorang blogger, ya karena saya hobi nulis sih,  yang kedua saya juga seorang programmer, dulu sering banget bikinin orang-orang website mulai blog sampai aplikasi, tapi sekarang udah enggak, udah ndak ada waktu sih,  karena saya juga memiliki usaha jasa pembuatan souvenir dari bahan blacu dan perca bati yang saya bangun bersama teman-teman.

Dan diusaha inilah saya menggunakan Digital Marketing untuk mempercepat dan meningkatkan pendapatan. Mulanya usaha ini bergerak biasa-biasa aja sih, ya maklum kala itu saya masih menjadi penjual online yang tiap hari kerja posting-posting bahkan spamming ke group-group, direport dan dikeluarkan dari group udah biasa.

Kurang lebih 5 bulan berjalan, spaming tiap hari bahkan sampe banting-bantingan harga, tapi closing sebulan kisaran 3-5 order dan jumlahnya tidak seberapa, cenderung rugi sih karena untungnya gak seberapa tapi capeknya itu. Haduuuh. Usaha kok gini-gini amat sih.

Kenapa tidak pakai website atau iklan Mas?

Sejujurnya saya dan temen-temen belum siap untuk keluar uang lebih, seperti untuk iklan karena kami tidak punya uang, kami memulai bisnis ini tanpa modal sama sekali. Dulu alur bisinisnya, kami share gambar, ada order, DP 50% lalu DP itu dijadikan modal untuk produksi dan begitu terus sampai kurang lebih 5 bulan.

Kenapa tidak pakai uang sendiri?

Ya, saya dan teman-teman memang sebisa mungkin tidak menggunakan uang pribadi untuk dilibatkan dalam usaha ini, Hingga akhirnya ada email masuk dari google yang memberikan kredit iklan senilai 450 ribu di Google Adword kala itu, sekarang namanya Google Ads. Dari situ akhirnya kami mulai berfikir untuk menggunakan uang pribadi yang akhirnya dihitung sebagai hutang perusahaan.

Dengan kesempatan itu saya mencoba untuk mencari alternatif tambahan seperti membuat website sebagai pajangan produk dan layanan yang kami miliki sebagai perwujudan bahwa kami ini profesional.

Kurang dari 2 Hari website udah selesai di isi berikut konten-kontennya dan siap untuk diiklankan. Lalu saya topup budget iklan, kurang lebih memakan waktu 3-5 hari baru uangnya sampai di Google Adword, begitu sampai, saya setting-setting iklan tembak keseluruh indonesia dan duaaar!! HP Android Jadulpun jebol gara-gara banyak Chat Masuk. Akhirnya beli HP baru, tapi tidak masalah, hasil dari ngiklan 500 ribu dan free ngiklan 450rb dibulan berikutnya sudah lebih dari cukup untuk membeli HP baru dan bayar hutang.

Dan yang lebih penting lagi adalah database yang kami dapatkan juga lebih banyak, jika dibandingkan spamming hanya dapat maksimal 5 order sebulan dengan total pesanan 1000-2000 pcs souvenir termasuk banting-bantingan harga, dengan ngiklan + Website dapat 2-3 orderan yang bisa tembus 3000-4000 pcs dan harga relatif lebih tinggi karena pengemasan yang berbeda.

Oiya jika kalian tanya kenapa kok pakai google ads, kenapa bukan FBAds atau IGAds?

Sejujurnya saya pakai google ads itu hanya kebetulan ada promo aja sih, sekali lagi kami ndak punya banyak duit buat ngiklan, bukan karena google lebih bagus atau apa, kalau saat itu mampu yang kita pasang semua.

Mengingat FB/IGAds itu bagus untuk menjaring Cold trafik karena sifatnya memperkenalkan diri, iklan keluar berdasarkan minat, sementar Google Ads memunculkan iklan berdasar kata kunci. Ketik “jual souvenir blacu murah” web kami muncul paling atas dan potensi beli ditempat kami lebih tinggi.

Sebelumnya kamu sudah menggunakan cara sebar brosur dan tempel-tempel di warung untuk promosi, tapi ya masih kurang maksimal.

Sebenarnya yang paling penting ketika kita ngiklan kita harus mengalihkan orang yang melihat iklan itu ke website kita, tidak peduli iklannya pake google, fb atau IG ads. Tujuannya untuk mengumpulkan database.

Dan bagian terpentingnya adalah performa websitenya jangan sampai websitenya lemot. Karena ketika lemot, pengunjung nunggu lama tapi tidak terbuka juga mereka akan close dan cari website lain.

Jangan sampai hal semacam itu terjadi, jika kalian ingin membuat website hal mendasar yang perlu kalian perhatikan adalah provider hostingnya, jangan asal murah. Hosting adalah tempat untuk menyimpan website kita dan dari pengalaman saya ada banyak provider yang kasih harga murah tapi pelayanannya hemm, mulai dari CS nya susah, hosting hobi banget down alias mati gak jelas, sampe tiba-tiba data-data website itu tiba-tiba hilang dan tidak bisa dikembalikan. Parah.

Sekitaran tahun 2015 atau 2016 saya menemukan Domainesia dari rekomendasi seorang temen yang katanya hosting disana murah. Dari pada bingung dan klien minta cepet dion kan websinya Saya cobalah beli disana sambil cari-cari info provinder luar negri yang bagus, kalo bagus Alhamdulillah, kalo enggak ya nombok.

Tapi alhamdulliah bener-bener bagus, dari segi performace sangat bagus karena website yang saya buat itu menggunakan plugin premium yang sebenarnya cukup berat yang udah bikin saya siap-siap buat nombok kalo-kalo klien komplen kok lelet, ternyata diluar perkiraan dan sayapun tidak jadi nombok.

Pelayanannya juga cepet, responsif banget ya walaupun kadang saya suka iseng chat lama-lama kalo dapet CS Cewek hehehe, Harga hostingnyapun terhitung murah dengan performa dan perlayanan yang diberikan. Lebih detailnya kalian bisa cek https://www.domainesia.com/hosting/ dan langsung chat aja biar lebih jelas.

Mungkin itu yang bisa saya share, mungkin next saya akan share-share lagi. Terimakasih sudah membaca ocehan saya yang cukup panjang. Selebihnya bisa lanjut di kolom komentar aja ya biar saya tidak ngomong sendiri 😀

Referensi:

https://www.smartbisnis.co.id/content/read/belajar-bisnis/inspirasi-bisnis/tak-kenal-gengsi-laksita-sukses-berkat-bisnis-kaos-kaki

https://finance.detik.com/solusiukm/d-4030636/bisnis-bawang-goreng-pak-guru-ini-raup-omzet-rp-30-jutabulan

Wicaksono

By Wicaksono

Seorang blogger biasa yang senang belajar dan berbagi. paling seneng belajar tentang bisnis dan marketing, sesekali juga jadi seorang programmer bisa dikit-dikit ngoding. Kurang lebih seperti itu.
kalau mau kenal lebih jauh, follow IGku saja @wichaksono.w

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *