STOP! Jangan Asal Jualan Sebelum Kamu Tau Siapa Konsumenmu

Cara jualan online, Pernah posting gila-gilaan? Tiap pagi, siang, sore bahkan malem kita posting terus? Dan sering kali berharap setelah posting gila-gila keseokan paginya dapat banyak closing? Jika iya, berarti kita sama.

Bahkan dikondisi yang sama kala itu, saya sampai membuat puluhan akun sosial media hanya untuk keperluan posting. Dan setelah 3 bulan apa yang saya dapat? Ya saya tidak mendapat apa yang saya harapkan.

Kenapa itu bisa terjadi?

Sebagai Mahasiswa Ilmu Komunikasi yang pernah ikut mata kuliah Ekonomi, Branding, dan mata kuliah Strategy & Planning, saya mencoba mendefinisikan permasalahan ini kedalam teori 4P yang pernah diajarkan. ya walaupun nilai pas-pasan (mungkin dosennya udah bosen ketemu saya, jadi diluluskan).

Strategi Pemasaran 4p

4P atau Bauran Pemasaran 4P atau 4P Marketing Mix adalah sebuah perpaduan dari 4P yaitu Product (Produk), Price (Harga), Place (Tempat), dan Promotion (Promosi). 4P bukanlah sebuah tahap tapi adalah satu alat yang digunakan untuk memperoleh respons yang diinginkan oleh pasar.

4P ini dapat dipahami sebagai:

Product (Produk): Barang/Jasa yang akan kita jual. Sebelum berjualan tentunya kita harus punya atau tau barang apa yang akan kita jual.

Price (Harga): Setelah kita punya barang/jasa yang akan kita jual, Yang perlu kita ketahui berikutnya adalah Harga, berapa sih harga yang pantas untuk barang/jasa yang kita jual.

Place (Tempat): Tempat ini bisa kalian artikan sebagai tempat menjual atau tempat dimana kalian menjual Product.

Promotion (Promosi): Lebih ke bagaimana kalian menjual produk kepada konsumen.

Awalnya saya kira permasalahannya berada pada price sehingga tidak ada lead masuk, lead adalah orang yang menghubungi kita via WA, Telepon, Email atau datang ketempat kita.

Ternyata salah, masalahnya bukan pada price, karena perbandingan harga yang saya ajukan dengan harga yang kompetitor tawarkan tidak telampau jauh harusnya tetep ada lead masuk. Ya walaupun dengan nawar-nawar. Jadi bukan price masalahnya.

Trus masalahnya dimana?

Setelah saya pahami dan mendengarkan saran dari para mastah, ternyata masalahnya ada di Place atau tempat dimana saya melakukan posting alias promosi. Ingat ya tempatnya bukan promosinya. Kala itu saya menggunakan Facebook yang mayoritas adalah orang-orang seumuran saya, dan jelas bukan segmentasi pasar dari produk yang saya jual.

Ibarat kata kita jualan robot-robot pada wanita, atau bonekah berbi pada anak laki-laki ya susah kejual, kecuali kita ubah cara promosinya.

Nah terjadi pada saya adalah seperti diatas dan tidak mengubah cara promosinya, ya share aja gitu. Promo blabla, jual bla bla.

Akhirnya saya beralih ke Instagram dan Website yang sangat memungkinkan untuk berjualan kepada orang yang tepat. Ya kita taulah Instagram dengan hastagnya dan Website dengan Kata Kunci dari google.

Motivasi Konsumen Dalam Membeli Suatu Produk

Dari sekian banyak problematika, motivasi konsumenlah yang menurut saya paling sangat menantang untuk dipelajari dan dipahami. Soalnya ada banyak sekali motivasi seseorang membeli sesuatu, mulai dari butuh hingga hanya iseng saja.

Soal iseng, ada seorang temen yang datang ke mall karena nganter temen jalan-jalan dan tanpa sengaja mampir kesalah satu konter hape (katanya tergoda sama mbak-mbak yang jaga), temen saya ini akhirnya ngobrol lama, ndak tau sih ngobrolin apa, yang jelas pulang-pulang dia bawa satu box kecil ada logo Apel. Hemmm IPHONE 11 brooo.

Nah kalo saya daftar motivasi konsumen dalam membeli suatu produk itu:

  • Butuh atau Kebutuhan
  • Fungsi, Kegunaan atau Manfaat
  • Karena Merk
  • Ada discount atau Harga Murah
  • Ikut-ikutan
  • Investasi

Dari motivasi-motivasi di atas tidaklah berdiri sendiri melainkan saling terhubung, hanya saja mana yang lebih dominan.

illustrasi saja

Seperti saya misalnya, kemarin saya lagi pingin banget punya celana hiking atau adventure, ya ada beberapa orang yang merekomendasikan merek terkenal seperti Eiger, Arei, Avtech, dan lain-lain. Tapi ya gitu harganya WOW. Akhirnya saya coba cari-cari di marketplace saya nemu tuh satu harga murah dan plus dapat discount 10%.

realpic

Ndak pake lama langsung tak order, dan 3 hari kemudian sampai dirumah. Overall produk sesuai dengan gambar, packing bagus dan sesuai deskrpsi. Tapi pas mau dipakai, resletingnya patah. Hemm resiko barang murah + discount.

Kecewasih tapi sampai di sini si penjual berhasil tuh ngejual barangnya, dan mungkin saya bukan salah satunya. Walapun efeknya saya tidak akan kembali beli ditoko tersebut apapun alasannya.

Berbeda dengan konsumen yang motivasinya karena Merk ataupun Investasi. Ketika mereka sudah percaya dengan suatu merk karena sudah terbukti keampuhannya, sampai kapanpun akan membeli tanpa peduli harganya terlalu mahal atau ada tidaknya discount.

Apalagi yang motivasinya untuk Investasi, suka tidak suka, kepake atau tidak kepake yang tetep dibeli, misalkan jam tangan rolex yang harganya ratusan juta, trus jamnya cuma dibuat 100 biji di seluruh dunia. Orang-orang berduit pasti ngejar itu, karena kalo dijual lagi ditahun depan, harganya naik. Selain Jam, ada juga mobil, tas-tas branded dan lain-lain.

Sedangkan yang ikut-ikutan biasanya berlaku pada barang/jasa yang sedang trend, baik trend di dunia, trend di sosial media, atau trend dikalangan sendiri.

Misal Trend pomed pada beli pomed, trend bebek helm, pada beli bebek helm. Termasuk saya beli celana itu karena trend dikalangan saya banyak yang punya dan lagi sering-seringnya dipakai.

Sebagai penjual kalian harus pandai-pandai memilih calon konsumen sesuai dengan motivasinya, tapi perhatikan juga produk kalian apakah bisa masuk, jangan sampai jual bebek helm kepada orang yang motivasinya membelinya investasi, ya jelas ndak minat.

Cara Menjaring Calon Konsumen Untuk Jualan Online

Memang tidak mudah menjual barang kepada seseorang yang tepat, tapi bukan tidak mungkin untuk menemukan bahkan mengumpulkannya.

Cara pertama dalam menjaring calon konsumen adalah dengan menemukan dimana mereka berkumpul.

Misalnih kalian jual sabun herbal pembersi dan pemutih wajah. Hal pertama yang kalian lakukan adalah kira-kira calon pembeli utama kita siapa? Laki-laki atau perempuan? Usianya berapa? Tinggal dimana? Aktif digroup atau forum apa? Suka baca situs, buku, majalah apa? Itu kalian breakdown semua.

Ketika saya jualan kaos atau souvenir yang saya bom adalah group dengan embel-embel kota, hashtag yang saya pakai ada embel-embel kota juga hingga diwebsitenya juga begitu.

Kenapa bukan benefit? Harga Murah? Produksi Cepat?

Saya sadar saya adalah pemain baru, jadi perlu jangkauan agar semua orang didunia ini kalo saya jualan. Setelah itu kita mulai kasih dah promo-promo dikit-dikit.

Cara Kedua adalah mengumpulkan calon konsumen, dicara sebelumnya kita udah sebar-sebar promo nih dikit-dikit, mulai ada lead masuk, ndak beli ndak masalah yang penting kita bisa koleksi kontak whatsappnya, suruh mereka follow IG atau like FP kita.

Ketika sudah banyak yang like, banyak yang Follow, kita sudah berhasil mengumpulkan calon konsumen, ketika produk/varian baru muncul tinggal kita post aja. Potensi closing pasti lebih gedhe dari pada kita ndak tau kosumen kita dimana.

Tips Menghapus Keraguan Orang Saat Membeli

Dari berbagai survey ternyata keputusan seseorang untuk membeli barang tidak semudah yang kita kira, ada banyak keraguan yang muncul ketika akan beli, apalagi jualan online, akan muncul suatu kekhawatiran seperti takut ditipu, barang jelek, toko abal-abal dan lalin-lain.

Agar kita berhasil jualan, Maka kita harus dan wajib untuk menghilangkan keraguan tersebut. Caranya

  1. Lengkapi informasi diri kalian, baik alamat, nama, nomor telpon dan foto. Karena siapa yang mau percaya kalian jualan beneran atau tidak kalo fotonya saja tidak ada, alamat kosong, namanya aneh. Jadi lengkapilah, baik di IG, FB, Website ataupun Marketplace.
  2. Berikan foto asli (realpic) agar lebih terpercaya, berikan juga foto-foto saat produksi jika perlu.
  3. Berikan garansi ketika terjadi kerusaan atau barang tidak sesuai ekspektasi.
  4. Tambahkan testimoni, real bukan dibuat-buat.
  5. Penghargaan atau Serifikat uji kelayaan produk yang kita jual.
  6. Jumlah pelanggan yang sudah membeli atau menggunakan produk
  7. Berikan bonus, apapun bonusnya yang penting relevan.


Demikian apa yang bisa saya share tentang cara jualan online, tentu ini belum sempurna karena saya masih belajar, tunggu artikel-artikel lain dari saya semoga bermanfaat.

Wicaksono

Seorang blogger biasa yang senang belajar dan berbagi. paling seneng belajar tentang bisnis dan marketing, sesekali juga jadi seorang programmer bisa dikit-dikit ngoding. Kurang lebih seperti itu. kalau mau kenal lebih jauh, follow IGku saja @wichaksono.w

Leave a Reply